Learning & Development Trends to Watch in 2017

Learning sudah menjadi Critical Success Factor dalam pengembangan dan kemajuan dari suatu organisasi. Learning bahkan memegang peranan penting bagi organisasi yang bertahan pada saat krisis, walaupun di Indonesia sendiri banyak perusahaan yang mengencangankan ikat pinggang terhadap training budget ketika mengalami hal serupa. Namun di tahun 2016, negara maju seperti USA menghabiskan $70B untuk corporate training dari total biaya di seluruh dunia yang sebesar $130B. Jika organisasi tidak berusaha untuk meningkatkan kemampuan karyawannya biasanya mereka akan tertinggal.

 Ada 3 hal yang mempengaruhi pentingnya L&D untuk kemajuan organisasi.

  1. Bagaimana menggunakan learning data untuk meningkatkan kemampuan talent?
  2. Bagaimana membuat learning menjadi efektif sehingga bisa menjadi competitive advantage untuk organisasi?
  3. Bagaimana membuat learning menjadi tool yg menghubungkan internal dan eksternal

1. New Role of L&D

Saat ini sudah mulai banyak perusahaan yang memiliki Chief Learning Officer bukan hanya sekedar Learning & Development Manager; perannya pun merangkap sebagai Chief Capability Officer, Chief Culture Officer, Chief Career Officer, Chief Change Officer and Chief Engagement Officer.

2. New Way for Working and Learning

Evolusi dari L&D sudah semakin cepat. Menurut John Bersin dari Delloite, pada awalnya kebanyakan perusahaan hanya melakukan training ketika ada suatu kebutuhan yang biasa disebut Incidental Training. Kemudian level selanjutnya (level ke-2) yang masih dilakukan banyak perusahaan saat ini adalah Training & Development Excellence, yaitu pelatihan terencana yang berfokus pada pelaksanaan program. Sementara level ke-3 adalah pelatihan yang berfokus pada pengembangan Talent dan Performance. Pelatihan dan Pengembangan terintegrasi dengan Talent Development dan Performance. Sedangkan saat ini yang tertinggi adalah level ke-4 yaitu Organizational Capability, dimana hal ini sudah terintegrasi bukan hanya dengan Talent dan Performance Management tapi juga dengan Business Performance Capability. Program pengembangan yang dilakukan pun ditujukan untuk mempersiapkan kebutuhan organisasi di masa depan. Peran L&D pun menjadi performance consultant untuk membantu karyawan meningkatkan kinerja melalui analisa mendalam dan berbagai macam metode learning.

Ini juga berdampak pada Model L&D 70:20:10 yang masih sering digunakan saat ini. Kalau sebelumnya pengembangan seseorang bisa diperolah dari job related experiences, exposure seperti coaching dan mentoring, serta education; saat ini untuk mencapai organisasi berkinerja tinggi environment turut memegang peranan penting dalam pengembangan seseorang.

Dalam new way of L&D, setiap level jabatan pekerjaan membutuhkan learning curriculum yang berbeda. Perlu dilakukan analisa menggunakan FGD dan/atau interview untuk menentukan kompetensi yang dibutuhkan di setiap jabatan untuk kebutuhan bisnis di masa depan. Kemudian mencari gap dari kompetensi-kompetensi tersebut melalui assessment. Metode yang sederhana dan umumnya digunakan adalah 360o assessment. Kompetensi dengan gap terbesar menjadi prioritas dalam pengembangan.

Dalam NBO leadership survey 2016 yang dilakukan terhadap lebih dari 3,000 executives di ASIA ditemukan bahwa yang menjadi perhatian utama dalam Employee Engagement adalah kapabilitas kepemimpan (68%). Selain itu kualitas komunikasi, keterlibatan pemimpin dalam pengembangan staff dan menentukan prioritas dari employee engagement menjadi hal yang perlu diperhatikan