Sebagai seorang analis data di Jakarta, hidup Nabila (28) – bukan nama sebenarnya – nyaris 24 jam terhubung dengan layar dan sistem online. Bekerja tanpa kenal batas waktu sudah jadi kebiasaan. Hingga suatu hari, tubuhnya “menyerah”. Ia diserang pusing hebat dan asam lambung kronis. Dokter mendiagnosisnya dengan migrain dan gangguan lambung biasa. Tapi anehnya, meski sudah minum obat dan banyak istirahat, sakitnya tak kunjung hilang dan performa kerjanya terus merosot.

Misteri ini baru terpecahkan saat ia berbicara dengan atasannya. Ternyata, yang dialami Nabiła bukanlah penyakit fisik semata, melainkan sindrom Technostress—kelelahan mental ekstrem akibat paparan digital yang tiada henti. Dan ternyata, di luar sana, ada banyak sekali pekerja yang diam-diam merasakan hal yang sama. Apa yang sebenarnya terjadi pada mental pekerja kita di era digital ini?

Di dunia kerja sekarang ini, teknologi tak lagi sekadar sarana, melainkan semesta tempat setiap pekerjaan tercipta. Dari sekadar berkirim pesan via instant messenger sampai ke penggunaan platform kolaboratif dan sistem berbasis AI. Segi positifnya, pekerjaan terasa lebih efektif karena teknologi membuat semua lebih modern, cepat, taktis, agile. Namun seperti dua sisi mata uang, muncul tantangan baru yang perlu mendapat perhatian khusus para pemimpin perusahaan.

Penggunaan teknologi berlebih secara personal maupun organisasi membuat ekspektasi meningkat tajam. Karyawan diharapkan bekerja lebih cepat, merespon informasi dan pesan saat itu juga. Mereka juga diharapkan online sepanjang hari, bukan untuk healing namun untuk selalu sigap apabila ada pekerjaan dan meeting mendadak. Mengapa hal ini dapat menjadi tantangan bagi pemimpin yang memiliki tim Gen Z? Generasi Z dikenal sebagai Digital Native, generasi yang terlihat sangat mahir secara digital dan memiliki respon aktif dan cepat (secara usia memiliki energi dan ambisi yang besar). Keterikatan kita dengan devices dan teknologi canggih selama hampir 24 jam dapat memicu Technostress, yaitu tekanan akibat interaksi digital yang terus-menerus. Jika dibiarkan, kondisi ini berpotensi besar berujung pada ‘Silent Burnout’—sebuah fase kelelahan digital di mana kita merasa kesulitan untuk benar-benar lepas dari pekerjaan. 

Sering dengar ungkapan, “Gue tuh overthinker, makanya gampang burnout”? Tanpa sadar, banyak orang meromantisasi label overthinker sebagai kelebihan. Mereka menganggapnya sebagai bukti bahwa mereka adalah seorang konseptor (thinker), bukan sekadar eksekutor (doer). Padahal, kita harus membedakan dengan tegas antara berpikir strategis dan berpikir kacau. Seseorang belum tentu thinker yang baik jika yang ia lakukan hanyalah memikirkan segalanya secara acak—dari beban kerja, drama kehidupan orang lain, sampai deretan berita viral di internet. Overthinking tanpa arah ini adalah jalan pintas menuju digital burnout. Dampak psikologisnya sangat merusak performa kerja: kehilangan fokus secara drastis, bingung dalam mengurai isi pikiran sendiri (linglung), dan pekerjaan serta tanggung jawab utama menjadi terbengkalai. Sebagai seorang pemimpin yang melihat timnya terjebak dalam fase ini, apa langkah pertama yang harus segera Anda ambil?

Pendekatan seorang pemimpin wajib berevolusi di era digital ini. Pemimpin sejati tidak lagi sekadar bertanya, “Bagaimana cara meningkatkan performa tim?” Pertanyaan krusialnya kini adalah: “Bagaimana kita mempertahankan performa tinggi secara berkelanjutan, tanpa membuat tim kelelahan secara digital?”

 

THE R.E.A.D.Y FRAMEWORK

Untuk menjawab tantangan tersebut, berikut adalah kerangka kerja R.E.A.D.Y yang harus segera diterapkan:

1. RECOGNIZE (Sadari & Pahami)

Pahami realitas bahwa Digital Native bukan berarti Digital Resilient. Hanya karena seseorang mahir berteknologi, bukan berarti mereka kebal terhadap dampak buruknya. Paparan digital yang berlebihan membuat tim rentan terhadap luapan informasi, tekanan untuk selalu cepat tanggap, kaburnya batas kerja dan kehidupan pribadi, hingga kecemasan saat memilah informasi.

Langkah Nyata: Sediakan waktu 5–10 menit untuk mengecek kondisi tim dan tanyakan apakah mereka sedang merasa kewalahan (overwhelmed). Ciptakan ruang aman agar tim menyadari bahwa technostress adalah isu budaya kerja yang harus diperbaiki bersama—dimulai dari pemimpinnya.

2. ESTABLISH BOUNDARIES (Bangun Batasan Tegas)

Lakukan kesepakatan bersama seluruh anggota tim mengenai “aturan main” interaksi digital agar ruang pribadi dan waktu istirahat mereka tetap terjaga.

Langkah Nyata: Sepakati aturan komunikasi harian yang jelas. Misalnya: Pesan instan (chat) hanya wajib direspons cepat saat jam kerja atau untuk kondisi darurat, email wajar dibalas dalam kurun waktu 1×24 jam, dan tetapkan batas waktu larangan mengirim pesan kerja (contoh: tidak ada chat pekerjaan di atas jam 7 malam). Perjelas juga definisi antara tugas yang “Mendesak” dan yang sekadar “Penting”.

3. ADAPT AND UPSKILL (Adaptasi & Tingkatkan Keahlian)

Kecemasan digital seringkali dipicu oleh rasa frustrasi terhadap alat kerja. Identifikasi perangkat lunak atau aplikasi yang penggunaannya masih menyulitkan tim.

Langkah Nyata: Jadwalkan waktu untuk saling berbagi pengetahuan atau lakukan reverse mentoring (mentoring dari anggota tim muda ke senior). Memberikan ruang bagi Gen Z untuk mengajari rekan kerjanya akan membuat mereka merasa lebih terikat (engaged). Mereka bergerak paling optimal ketika menyadari bahwa alat yang mereka gunakan memiliki makna dan dampak nyata (Purpose behind Tools).

4. DESIGN HUMAN-CENTERED WORK (Rancang Kerja yang Manusiawi)

Kurangi kerumitan yang tidak perlu. Jangan biarkan alat digital yang seharusnya mempermudah justru menambah beban operasional harian.

Langkah Nyata: Lakukan audit perangkat digital; pangkas penggunaan berbagai aplikasi berbeda yang memiliki fungsi tumpang tindih. Kurangi juga jadwal rapat yang tidak esensial dengan membatasi durasi maksimal 30–60 menit agar tim punya waktu untuk benar-benar mengeksekusi pekerjaan.

5. YIELD TIME AND RECOVERY (Sediakan Waktu Pemulihan)

Tujuan akhirnya adalah menjaga stamina dan performa tim dalam jangka panjang. Otak manusia tidak dirancang untuk terus “menyala” setiap saat.

Langkah Nyata: Sepakati pembagian antara waktu fokus (deep work) dan waktu pemulihan sejenak. Dorong penggunaan metode seperti Pomodoro Timer. Yang terpenting, hormati aturan yang sudah dibuat bersama; pemimpin harus memberi contoh dengan tidak mengirim pesan larut malam saat jam istirahat tim.

 

Technostress pada dasarnya adalah ‘Cultural Signal’ (sinyal budaya kerja), bukan sekadar masalah teknis. Oleh karena itu, solusinya bukanlah memperkenalkan perangkat yang lebih canggih dan cepat, melainkan memperbaiki sistem kerja: perilaku kepemimpinan, norma kerja, dan kebiasaan sehari-hari. Pada akhirnya, kesuksesan pemimpin tidak lagi diukur dari seberapa cepat timnya bekerja, melainkan seberapa konsisten tim mampu bekerja dengan baik dalam keadaan yang tetap sehat secara fisik dan mental.

Oky Andrianto

Head of Learning and Digital Solution

Pin It on Pinterest

Share This