Be Assertive at Work

Suatu hari di salah satu perusahaan, seorang karyawan datang menemui manajernya. Dia ingin mengajukan pengunduran diri dari kantor karena sudah tidak tahan lagi dengan beban pekerjaan yang sangat banyak dan tidak pernah selesai. Si manajer tidak habis pikir mengapa harus sampai mengundurkan diri karena dari segi perilaku, karyawan ini sangat baik, bukan jiwa pemberontak,  pintar dan mempunyai potensi yang besar untuk maju. Setelah bicara hati ke hati, ternyata alasan kuatnya adalah karena dia tidak bisa menolak permintaan orang lain. Hampir setiap pekerjaan yang datang kepadanya walaupun bukan tanggung jawabnya, selalu diterima sedangkan masih ada pekerjaan yang belum selesai.

Kondisi ini awalnya terjadi ketika lingkungan kerjanya mengetahui bahwa dia mempunyai banyak talenta dan dapat bekerja dengan cepat. Seiring dengan berjalannya waktu, project-project mulai dilimpahkan kepadanya dan mengerjakan tugas lain yang bukan menjadi tanggung jawabnya. Lembur sudah menjadi makanan sehari-hari dan akan membawa pekerjaan pulang ke rumah jika belum selesai dikerjakan, walaupun hingga larut malam. Hal ini mempengaruhi kesehatannya, karena waktu istirahat ia menggunakannya untuk bekerja sehingga membuatnya stres dan frustrasi. Singkat cerita, karyawan ini merasa sudah tidak tahan dan ingin pindah kantor lain atau membuka usaha sendiri.

Kasus di atas barangkali juga pernah dialami oleh Anda, baik Anda sebagai karyawan atau sebagai manajer. Mengapa bisa terjadi? Hanya karena satu kata “Assertive”. Asertif bisa diartikan dengan ketegasan, berani untuk mengeluarkan pendapat tanpa menyinggung perasaan orang lain, dan berani untuk mengambil keputusan sesuai dengan apa yang diinginkan tanpa mengganggu hak orang lain.

ASSERTIVE is Expressing your feelings, wants and needs in a way that also respects the rights of others. Relating to others with a positive attitude, respecting oneself and others and believing “I matter and so do you”. Menurut Alberti & Emmons dalam ‘Guide to assertive living’, ASSERTIVENESS is behaviour which promotes equality in relationships, enables us to stand up for ourselves without undue anxiety and without causing harm or denying the rights of others.

Karyawan yang diceritakan di atas sebetulnya sudah kewalahan dengan pekerjaannya, tapi tidak dapat menolak karena ia takut menyinggung perasaan orang lain, merasa bersalah dan takut dianggap tidak mau membantu orang lain. Apa yang dimiliki oleh karyawan tersebut adalah sikap non-asertif atau sikap penurut. Sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaan, daripada harus menolak tugas dan tidak disukai oleh orang lain. Padahal tanpa disadari, di manapun ia bekerja, sikap pasif tersebut akan kembali terulang dan terus muncul.

Sebagai manajer yang baik, apa yang harus dilakukan untuk membantu mencari solusi?

  1. Lakukan Coaching. Dengarkan secara aktif dan jelaskan mengenai teknik Assertive, apa manfaat kegunaannya dalam dunia kerja.
  2. Mengirimkan yang bersangkutan untuk mengikuti pelatihan Assertiveness Program
  3. Melakukan instruksi dengan tim untuk pembagian tugas, agar menjelaskan tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Paragraf di atas sudah membahas mengenai definisi Assertiveness. Dalam dunia komunikasi perilaku dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu Pasif, Agresif dan Asertif. Kita semua memiliki ke-3 perilaku ini, yang membedakan hanyalah kadarnya saja. Ada yang kadar pasifnya mendominasi, sudah asertif, atau sementara orang lain lebih terkesan agresif dan arogan.

Perilaku Pasif

PERILAKU PASIF – Kita dapat menemukan ciri-ciri perilaku pasif pada orang yang jarang menyampaikan idenya sendiri, sering dimanfaatkan oleh teman kerjanya, perlu waktu lama dalam mengambil keputusan, dan suka bekerja sendiri. Apa alasannya mereka bersikap pasif? Takut mengecewakan orang lain, merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain dan takut akan penolakan.

Perlilaku Agresif

PERILAKU AGRESIF – Kita dapat menemukan ciri-ciri perilaku agresif pada orang yang suka mengekspresikan perasaan; keinginan; kebutuhan dengan cara, bahasa dan intonasi yang kurang pantas, terkesan marah-marah dan mendesak orang lain untuk segera melakukan permintaannya. Perilaku agresif tidak peduli perasaan orang lain, seringkali terlibat konflik dan berdebat, memiliki ide-ide kuat dalam banyak hal dan tidak ragu dalam menyampaikannya. Sikap agresif selalu mencari kesalahan orang lain apabila ada masalah yang muncul. Berkompetisi dengan yang lain dan marah apabila kalah.

Perilaku Asertif

Perilaku yang ingin dicapai adalah ASERTIF. Hal yang terpenting adalah mengetahui ciri-ciri asertif, bagaimana melakukannya, kapan, di mana dan kepada siapa kita melakukannya. Assertiveness (sikap tegas) adalah ekspresi terbuka dan jujur untuk mendapatkan hak pribadinya sekaligus menghormati hak orang lain di saat yang bersamaan. Mendengarkan kata hati dalam berkomunikasi dan bertindak ceroboh. Langkah penting untuk menjadi asertif adalah mempunyai kesadaran diri atas hak-hak kita sebagai individual, dan menegaskan kembali hak-hak yang menjadi keunikan, identitas dan kekuatan personal.

Apa saja hak utamanya?

  1. Hak untuk diperlakukan dengan hormat.
  2. Hak untuk menyampaikan opini dan perasaan.
  3. Hak untuk menentukan gol dan visi personal.
  4. Hak untuk bertanya.
  5. Hak untuk berkata ‘tidak’.
  6. Hak untuk mengambil tindakan ‘apa yang perlu dilakukan dan yang tidak’.
  7. Hak mendapat apresiasi dari apa yang sudah dikerjakan.
  8. Hak untuk berubah pikiran.

Asertif bukan sikap yang kaku, artinya kita dapat memilih kapan untuk melakukannya dan kapan tidak melakukannya, tergantung situasi dan dengan siapa kita berhadapan. Dalam satu situasi kita bisa melakukan apa yang menjadi keinginan kita, tapi dalam situasi yang sama rasanya tidak memungkinkan karena ada dampak dengan orang lain. Contoh: kita ingin pulang kantor tepat waktu, tetapi rasanya egois bila melihat teman kita satu team masih bekerja keras menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawab bersama. Jadi, Untuk menjadi seseorang yang asertif, perlu disadari bahwa selain hak, juga ada kewajiban (responsibility). Orang lain juga mempunyai hak sama seperti kita, maka apapun yang kita lakukan selalu ada dampak sosial yang terjadi.

Contoh lainnya:

Rights (Saya mempunyai hak untuk..) Responsibilities (Konsekuensi yang saya hadapi..)
Diperlakukan adil dan hormat Memperlakukan orang lain juga dengan adil dan hormat
Menyampaikan kebutuhan kita Menyadari orang lain kemungkinan mempunyai kebutuhan yang berbeda
Menolak permintaan Berdiskusi untuk solusi pemecahan masalah

Untuk menjadi seorang yang asertif tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses, latihan, penerimaan serta rasa percaya diri. Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menjadi asertif dalam berkomunikasi. Broken Record, ‘I’ statements, Saying ‘NO’ dan lainnya. Lebih jelasnya Anda bisa pelajari dalam program Assertiveness & Influencing Skils dari NBOGroup Indonesia yang mana membahas lengkap kiat-kiat menjadi pribadi yang asertif dan mem. Semoga bermanfaat dan sukses untuk Anda dan kita semua!

Oleh Oky Andrianto

Click here for registration.